Rabu, 29 September 2010

Membudayakan Etos Kerja Islami

sumber :

Judul asli : Membudayakan Etos Kerja Islami
Penulis : K.H. Toto Tasmara
Penerbit : Gema Insani Press, Jakarta
Tahun : 2002
Jumlah halaman : 242 hlm
Pembedah : Shofia Rija (Mahasiswa Teknik Kimia USU 2004)
Dibedah pada Acara bedah buku KAMMI Korpus Teknik USU)


Etos kerja merupakan totalitas kepribadian diri serta cara mengekspresikan, memandang, meyakini, dan memberikan sesuatu yang bermakna, yang mendorong dirinya untuk bertindak dan meraih amal yang optimal (high performance).
Etos kerja muslim didefenisikan sebagai sikap kepribadian yang melahirkan keyakinan yang sangat mendalam bahwa bekerja itu bukan saja untuk memuliakan dirinya, menampakkan kemanusiaannya, melainkan juga sebagai suatu manifestasi dari amal saleh. Sehingga bekerja yang didasarkan pada prinsip-prinsip iman bukan saja menunjukkan fitrah seorang muslim, melainkan sekaligus meninggikan martabat dirinya sebagai hamba Allah yang didera kerinduan untuk menjadikan dirinya sebagai sosok yang dapat dipercaya, menampilkan dirinya sebagai manusia yang amanah, menunjukkan sikap pengabdian sebagaimana firman Allah, “Dan tidak Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzaariyat : 56)

Seorang muslim yang memiliki etos kerja adalah mereka yang selalu obsesif atau ingin berbuat sesuatu yang penuh manfaat yang merupakan bagian amanah dari Allah. Cara pandang untuk melaksanakan sesuatu harus didasarkan kepada tiga dimensi kesadaran, yaitu :
• Dimensi makrifat (Aku Tahu)
Makrifat Alam Diri Pribadi
Ringkasan, Membudayakan Etos Kerja Islami 1

7 knows
1. tahu siapa aku, apa kekuatan dan kelemahanku
2. tahu apa pekerjaanku
3. tahu siapa pesaingku dan kawanku
4. tahu produk yang akan dihasilkan
5. tahu apa bidang usahaku dan tujuanku
6. tahu siapa relasiku
7. tahu pesan-pesan yang akan kusampaikan

• Dimensi hakikat (aku berharap)
Sikap diri untuk menetapkan sebuah tujuan kemana arah tindakan dilangkahkan. Setiap pribadi muslim meyakini bahwa niat atau dorongan untuk menetapkan cita-cita merupakan ciri bahwa dirinya hidup.
• Dimensi syariat (aku berbuat)
Pengetahuan tentang peran dan potensi diri, tujuan serta harapan-harapan hendaklah mempunyai arti kecuali bila dipraktikkan dalam bentuk tindakan nyata yang telah diyakini kebenarannya.
Bekerja untuk mencari fadhilah karunia Allah, menjebol kemiskinan, meningkatkan taraf hidup, martabat, dan harga diri.
Harapan (hope) hanya bisa diraih bila memenuhi kualitas kepribadian yang secara metaforis dapat digambarkan dalam rumus :
Quality of your (head + heart + hand) + hard working = hope
Yang membedakan semangat kerja dalam Islam adalah kaitannya dengan nilai serta cara meraih tujuannya. Bagi seorang muslim bekerja merupakan kewajiban yang hakiki dalam rangka menggapai ridha Allah. Sedangkan orang kafir bermujahadah untuk kesenangan duniawi dan untuk memuaskan hawa nafsu.
Dijepang dikenal sebuah istilah Keizen yang dipelopori oleh Masaaki Imai, yakni semangat untuk terus-menerus melakukan perbaikan yang melibatkan setiap orang mulai dari pimpinan puncak sampai pekerja lapangan. Salah satu motonya adalah “Engineers at Japanese plants are often warned, ‘There will be no progress if you keep on doing things exactly the same way’” (para insinyur di Jepang sering diingatkan akan sebuah moto, ‘Tidak pernah akan ada kemajuan jika Anda mengerjakan sesuatu dengan cara yang sama dari waktu ke waktu)

25 ciri etos kerja muslim :
• Mereka kecanduan terhadap waktu → Menyusun tujuan, realisasi, kerja, evaluasi
• Hidup berhemat dan efisien
• Ikhlas
• Jujur
• Memiliki komitmen → Tekad dan keyakinan, tidak mudah menyerah
• Istiqomah
Ringkasan, Membudayakan Etos Kerja Islami 2
• Berdisiplin → berhati-hati dan tanggungjawab dalam kerja
• Konsekuen dan berani menghadapi tantangan
• Memiliki sikap percaya diri
• Kreatif
• Bertanggungjawab → kerja sebagai amanah
• Mereka bahagia karena melayani/ menolong
• Memiliki harga diri
• Memiliki jiwa kepemimpinan
• Berorientasi ke masa depan
• Memiliki jiwa wiraswasta
• Memiliki insting bertanding
• Mandiri (Independent)
• Kecanduan belajar dan haus mencari ilmu
• Memiliki semangat perantauan
• Memperhatikan kesehatan dan gizi
• Tangguh dan pantang menyerah
• Berorientasi pada produktivitas
• Memperkaya jaringan silaturahim
• Memiliki semangat perubahan

Hal-hal yang harus dilakukan untuk mencapai etos kerja yang islami adalah :
1. Percaya diri dan optimis
2. Jiwa yang merdeka
3. Allah always in my heart
4. Berwawasan
5. Memiliki kemampuan bersaing
6. Berpikir positif
7. Memiliki harga diri
8. Berorientasi ke depan

Masalah –masalah yang menghambat etos kerja :
1. Kesalahan paradigma berpikir terhadap tindakan, cth : pesimis, aku tidak bisa
2. Kesalahan paradigma beribadah, cth : ibadah hanya sebatas maghdah
Ringkasan, Membudayakan Etos Kerja Islami 3



" Analisa Pribadi "

setiap orang memang hendaknya memiliki etos kerja. etos kerja yang dimiliki dapat memberikan pengaruh positif untuk keberhasilan didalam hidupnya. tidak terkecuali untuk para muslim, mereka biasanya memiliki keinginan kuat untuk mencapai suatu keinginan.

seorang muslim yang memiliki etos kerja adalah mereka yang selalu obsesif atau ingin berbuat sesuatu yang bermanfaat yang merupakan bagian amanah dari allah. setiap muslim yang memiliki etos kerja yang baik biasanya memiliki beberapa sifat positif contohnya saja kejujuran dalam setiap usahanya, kedisiplinan dalam melakukan suatu pekerjaan serta memiliki tekat dan kemauan yang kuat untuk melakukan sesuatu.

http://www.google.co.id/#hl=id&source=hp&biw=1039&q=etos+kerja+orang+muslim&aq=f&aqi=&aql=&oq=&gs_rfai=&fp=d40a4a5cb30e920a

pustakahanan.googlepages.com/RingkasanEtosKerjaIslami_TotoTasmara.pdf



Rabu, 05 Mei 2010

Langkah Metode Ilmiah

LANGKAH METODE ILMIAH

Metode ilmiah atau proses ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan observasi serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.

Langkah langkahnya ialah:

Menyusun Rumusan Masalah

a. perumusan masalah

b. pembuatan kerangka berfikir

c. penarikan hipotesis

d. pengujian hipotesis/eksperiment, dan

e. penarikan kesimpulan.



A. Perumusan masalah

Proses kegiatan ilmiah dimulai ketika kita tertarik pada sesuatu hal. Ketertarikan ini karene manusia memiliki sifat perhatian. Pada saat kita tertarik pada sesuatu, sering timbul pertanyaan dalam pikiran kita. Perumusan masalah merupakan langkah untuk mengetahui masalah yang akan dipecahkan sehingga masalah tersebut menjadi jelas batasan, kedudukan, dan alternatif cara untuk memecahkan masalah tersebut. Perumusan masalah juga berarti pertanyaan mengenai suatu objek serta dapat diketahui factor-faktor yang berhubungan dengan objek tersebut.

B. Pembuatan kerangka berfikir

Pembuatan kerangka berfikir merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan antar berbagai faktor yang berkaitan dengan objek dan dapat menjawab permasalahan. Pembuatan kerangka berfikir menggunakan pola berfikir logis, analitis, dan sintesis atas keterangan-keterangan yang diperoleh dari berbagai sumber informasi. Hal itu diperoleh dari wawancara dengan pakar atau dengan pengamatan langsung.

C. Penarikan hipotesis

Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap suatu permasalahan. Penyusunan hipotesis dapat berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan oleh orang lain. Dalam penelitian, setiap orang berhak menyusun Hipotesis.

D. Pengujian Hipotesis/eksperiment

Pengujian hipotesis dilakukan dengan cara menganalisis data. Data dapat diperoleh dengan berbagai cara, salah satunya melalui percobaan atau eksperimen. Percobaan yang dilakukan akan menghasilkan data berupa angka untuk memudahkan dalam penarikan kesimpulan.

Pengujian hipotesis juga berarti mengumpulkan bukti-bukti yang relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat bukti-bukti yang mendukung hipotesis.

E. Penarikan kesimpulan

Penarikan kesimpulan merupakan penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima.

Hipotesis yang diterima dianggap sebagai bagian dari pengetahuan ilmiah, sebab telah memenuhi petrsyaratan keilmuan. Syarat keilmuan yakni mempunyai kerangka penjelasan yang konsisten dengan pengetahuan ilmiah sebelumnya serta telah teruji kebanarannya.

localheroes-jogja.blogspot.com/2009/02/langkah-metode-ilmiah.html

Metode Ilmiah

Metode ilmiah atau proses ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan observasi serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.


unsur utama metode ilmiah adalah pengulangan empat langkah berikut:
1.Karakterisasi (observasi dan pengukuran)
2.Hipotesis (penjelasan teoretis yang merupakan dugaan atas hasil observasi dan pengukuran)
3.Prediksi (deduksi logis dari hipotesis)
4.Eksperimen (pengujian atas semua hal di atas)

Apa ciri karya tulis ilmiah?
Kaya tulis ilmiah berbeda dengan karya tulis jurnalistik. Karya tulis ilmiah juga berbeda dengan karya tulis prosa fiksi. Perbedaan itu terlihat pada hal-hal berkut.
Apabila karya tulis jurnalistik mendeskripsikan objek atau menceritakan peristiwa sebagai tujuan utama penulisan, karya tulis ilmiah mendeskripsikan objek atau menceritakan peristiwa sebagai bukti yang mendasari penyimpulan sebuah teori. Oleh karena itu, tugas jurnalis adalah “memfoto” fenomena apa adanya, tanpa diikuti komentar atau analisis teori. Sebaliknya, tugas ilmuwan atau akademisi adalah menganalisis fenomena berdasarkan teori tertentu.
Apabila karya tulis prosa fiksi menonjolkan ekspresi emosi atau perasaan, karya tulis ilmiah menonjolkan ekspresi akal pikiran. Oleh karena itu, pengarang prosa fiksi bebas mengekspresikan imajinasinya yang subjektif. Sebaliknya, penulis karya ilmiah bebas mengekspresikan analisis logis yang objektif.
Apa pun jenis karya ilmiah yang ditulis oleh ilmuwan atau akademisi – sebagaimana telah diuraikan pada bagian sebelumnya – harus mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.
Objektif. Keobjektifan ini menampak pada setiap fakta dan data yang diungkapkan berdasarkan kenyataan yang sebenarnya, tidak dimanipulasi. Juga, setiap pernyataan atau simpulan yang disampaikan berdasarkan bukti-bukti yang bisa dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, siapa pun dapat mengecek kebenaran dan keabsahanya.
Netral. Kenetralan ini bisa terlihat pada setiap pernyataan atau penilaian bebas dari kepentingan-kepentingan tertentu baik kepentingan pribadi maupun kelompok. Oleh karena itu, pernyataan-pernyataan yang bersifat ‘mengajak’, ‘membujuk’, atau ‘mempengaruhi’ pembaca dihindarkan.
Sistematis. Uraian yang terdapat pada karya ilmiah dikatakan sistematis apabila mengikuti pola pengembangan tertentu, misalnya pola urutan, klasifikasi, kausalitas, dan sebagainya. Dengan cara demkian, pembaca akan bisa mengikutinya dengan mudah alur uraiannya.
Logis. Kelogisan ini bisa dilihat dari pola nalar yang digunakannya, pola nalar induktif atau deduktif. Kalau bermaksud menyimpulkan suatu fakta atau data digunakan pola induktif; sebaliknya, kalau bermaksud membuktikan suatu teori atau hipotesis digunakan pola deduktif.
Menyajikan fakta (bukan emosi atau perasaan). Setiap pernyataan, uraian, atau simpulan dalam karya ilmiah harus faktual, yaitu menyajikan fakta. Oleh karena itu, pernyataan atau ungkapan yang emosional (menggebu-gebu seperti orang berkampanye, perasaan sedih seperti orang berkabung, perasaan senang seperti orang mendapatkan hadiah, dan perasaan marah seperti orang bertengkar) hendaknya dihindarkan.

Manfaat menulis ilmiah :
1. Melatih berpikir tertib dan teratur karena menulis ilmiah harus mengikuti tata cara penulisan yang sudah ditentukan prosedur tertentu, metode dan teknik, aturan / kaidah standar, disajikan teratur, runtun dan tertib.
2. Menulis ilmiah memerlukan literatur, buku-buku ilmiah, kamus, ensiklopedia yang disusun tertib.
3. Oleh sebab pada hakikatnya sebuah karangan ilmiah ialah laporan tentang kebenaran yand diperoleh dari hasil penelitian di lapangan.
4. Karena dalam karya ilmiah ada organ yang disebut bab pembahasan yang berfungsi menganalisis, memecahkan dan menjawab setiap permasalahan sampai tuntas hingga ditemukannya jawaban berupa karya ilmiah.
5. Karena dalam karya ilmiah ada organ yang disebut bab landasan teori atau kerangka teoritis yang berfungsi memaparkan teori-teori para ahli seta mengomentari atau mengkritiknya untuk mendukung dan memperkuat argumen penulis.
6. Bahasa komunikatif ilmiah memiliki syarat :
  a. harus jelas = harus bermakna tunggal tidak boleh ambigu
  b.penempatan gatra (unsur fungsional dalam kalimat) harus lengkap dan dan tepat
  c. diksi atau pilihan kata harus tepat.

Apa itu sikap ilmiah?
Sikap ilmiah merupakan sikap yang harus ada pada diri seorang ilmuwan atau akademisi ketika menghadapi persoalan-persoalan ilmiah. Sikap ilmiah ini perlu dibiasakan dalam berbagai forum ilmiah, misalnya dalam diskusi, seminar, loka karya, dan penulisan karya ilmiah
Sikap-sikap ilmiah yang dimaksud adalah sebagai berikut.
Sikap ingin tahu. Sikap ingin tahu ini terlihat pada kebiasaan bertanya tentang berbagai hal yang berkaitan dengan bidang kajiannya. Mengapa demikian? Bagaimana caranya? Apa saja unsur-unsurnya? Dan seterusnya.
Sikap kritis. Sikap kritis ini terlihat pada kebiasaan mencari informasi sebanyak mungkin berkaitan dengan bidang kajiannya untuk dibanding-banding kelebihan-kekurangannya, kecocokan-tidaknya, kebenaran-tidaknya, dan sebagainya.
Sikap terbuka. Sikap terbuka ini terlihat pada kebiasaan mau mendengarkan pendapat, argumentasi, kritik, dan keterangan orang lain, walaupun pada akhirnya pendapat, argumentasi, kritik, dan keterangan orang lain tersebut tidak diterima karena tidak sepaham atau tidak sesuai.
Sikap objektif. Sikap objektif ini terlihat pada kebiasaan menyatakan apa adanya, tanpa diikuti perasaan pribadi.
Sikap rela menghargai karya orang lain. Sikap menghargai karya orang lain ini terlihat pada kebiasaan menyebutkan sumber secara jelas sekiranya pernyataan atau pendapat yang disampaikan memang berasal dari pernyataan atau pendapat orang lain.
Sikap berani mempertahankan kebenaran. Sikap ini menampak pada ketegaran membela fakta dan hasil temuan lapangan atau pengembangan walapun bertentangan atau tidak sesuai dengan teori atau dalil yang ada.
Sikap menjangkau ke depan. Sikap ini dibuktikan dengan selalu ingin membuktikan hipotesis yang disusunnya demi pengembangan bidang ilmunya.
Sikap ilmiah ini juga harus ada pada diri Anda ketika menyusun buku ilmiah. Kebiasaan-kebiasaan yang bertentangan dengan sikap ilmiah harus Anda buang jauh-jauh, misalnya sikap menonjolkan diri dan tidak menghargai pendapat orang lain, sikap ragu dan mudah putus asa, sikap skeptis dan tak acuh terhadap masalah yang dihadapi.

Oleh: Masnur Muslich

penalaran induktif

Penalaran Induktif

adalah suatu penalaran yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif. Untuk turun ke lapangan dan melakukan penelitian tidak harus memliki konsep secara canggih tetapi cukup mengamati lapangan dan dari pengamatan lapangan tersebut dapat ditarik generalisasi dari suatu gejala. Dalam konteks ini, teori bukan merupakan persyaratan mutlak tetapi kecermatan dalam menangkap gejala dan memahami gejala merupakan kunci sukses untuk dapat mendiskripsikan gejala dan melakukan generalisasi.
Contoh : Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.

Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari fenomena individual menuju kesimpulan umum.
Contoh:

Tamara Bleszynski adalah bintang iklan, dan ia berparas cantik.
Nia Ramadhani adalah bintang iklan, dan ia berparas cantik.

Generalisasi: Semua bintang sinetron berparas cantik.

Pernyataan "semua bintang sinetron berparas cantik" hanya memiliki kebenaran probabilitas karena belum pernah diselidiki kebenarannya.
Contoh kesalahannya:

Omas juga bintang iklan, tetapi tidak berparas cantik.

penalaran deduktif

Penalaran Deduktif

adalah suatu penalaran yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala.

Contoh : yaitu sebuah sistem generalisasi.

Laptop adalah barang eletronik dan membutuhkan daya listrik untuk beroperasi,
DVD Player adalah barang elektronik dan membutuhkan daya listrik untuk beroperasi,

Generalisasi : semua barang elektronik membutuhkan daya listrik untuk beroperasi.

Silogisme dapat dibedakan menjadi tiga yaitu :

1. Silogisme Kategorial

Silogisme kategorial disusun berdasarkan klasifikasi premis dan kesimpulan yang kategoris. Premis yang mengandung predikat dalam kesimpulan disebut premis mayor, sedangkan premis yang mengandung subjek dalam kesimpulan disebut premis minor.

Semua mamalia binatang yang melahirkan dan menyusui anaknya. Kerbau termasuk mamalia. Jadi, kerbau : binatang yang melahirkan dan menyusui anaknya.
Yang perlu dicermati adalah, bahwa pola penalaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari kita tidak demikian nampak, entah di realita pembicaraan sehari-hari, lewat surat kabar, majalah, radio, televisi, dan lain-lain. Oleh sebab itu, dalam menyimak atau mendengarkan atau menerima pendapat seseorang, kita perlu berpikir kritis melihat dasar-dasar pemikiran yang digunakan sehingga kita dapat menilai seberapa tingkat kualitas kesahihan pendapat itu.

Dalam hal seperti ini kita perlu mnenentukan:

  1. kesimpulan apa yang disampaikan;

  2. mencari dasar-dasar atau alasan yang dikemukakan sebagai premis-premisnya;

  3. menyusun ulang silogisme yang digunakannya; kemudian melihat kesahihannya berdasarkan ketentuan hukum silogisme.

Berdasarkan hal tersebut tentu saja kita akan mampu melihat setiap argumen, pendapat, alasan, atau gagasan yang kita baca atau dengar. Dengan demikian, secara kritis kita mengembangkan sikap berpikir ke arah yang cerdik, pintar, arif, dan tidak menerima begitu saja kebenaran / opini yang dikemukakan pihak lain. Berdasarkan hal inilah akhirnya kita mampu menerima, meluruskan, menyanggah, atau menolak suatu pendapat yang kita terima.

2. Silogisme Hipotesis

Silogisme hipotesis yaitu Silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis. Konditional hipotesis yaitu : bila premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Bila minornya

Menolak anteseden, simpulannya juga menolak konsekuen.
Contoh silogisme hipotesis :
My : jika tidak ada uang manusia sangat kesulitan tuk memenuhi kebutuhan hidupnya
Mn : Uang tidak ada
K : jadi, manusia akan kesulitan tuk memenuhi kebutuhan hidupnya

3. Silogisme Alternatif

Silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif.
Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Simpulannya akan menolak alternatif yang lain.
Contoh silogisme alternatif :
My : Kucing berada di dalam rumah atau di luar rumah
Mn : Kucing berada di luar rumah
K : Jadi, kucing tidak berada di dalam rumah

sumber : http://aristobe74.blogspot.com

Rabu, 30 Desember 2009

apa itu riset pemasaran

riset pemasaran, menurut American Marketing Association (AMA) memberikan definisi resmi mengenai riset pemasaran pada tahun 1987 sebagai “fungsi yang menghubungkan konsumen, pelanggan dan masyarakat umum dengan pemasar melalui informasi. Informasi ini digunakan untuk mengidentifikasi dan menentukan peluang dan masalah pemasaran; merumuskan, menyempurnakan dan mengevaluasi tindakan-tindakan pemasaran; memantau kinerja pemasaran; dan menyempurnakan pemahaman yang dapat membuat aktivitas pemasaran lebih efektif. Riset pemasaran menentukan informasi yang dibutuhkan untuk memenuhi tujuan tersebut; merancang metode untuk pengumpulan informasi; mengelola dan mengimplementasikan proses pengumpulan data; menganalisis hasil-hasil yang diperoleh; dan mengkomunikasikan hasil temuan dan implikasinya”.

Maksud tindakan yang sistematis seperti yang dijelaskan di atas adalah suatu tindakan yang dilakukan secara teratur dan konsisten didasarkan atas kegiatan-kegiatan yang ilmiah serta dapat dibuktikan kebenarannya. Untuk kegiatan riset pemasaran, kegiatan yang sistematis tersebut meliputi berbagai kegiatan, mulai dari; perumusan masalah, penentuan desain riset, perancangan metode pengumpulan data, perancangan sampel dan pengumpulan data, analisis dan interpretasi data serta penyusunan laporan riset.

# Perumusan Masalah

Salah satu peranan penting dari riset pemasaran adalah membantu merumuskan masalah yang harus diatasi. Riset hanya dapat dirancang secara sistematis untuk memberikan informasi berharga jika masalah yang dihadapi telah dirumuskan secara jelas dan akurat. Proses perumusan masalah meliputi pula spesifikasi tujuan riset yang dilakukan.

# Penentuan Desain Riset

Pada tahapan ini dibuat kerangka untuk melaksanakan penelitian. Di dalamnya memuat secar a rinci prosedur untuk pengumpulan data, cara pengujian hipotesis, kemungkinan jawab terhadap research questions samapi dengan model analisis yang dipergunakan.

# Perancangan Metode Pengumpulan Data

Setelah ditentukan model yang dipakai untuk pengumpulan data, dilakukan kegiatan pengumpulan data baik primer maupun sekunder. Pengumpulan data primer dapat dilakukan dengan cara interviewing, dengan wawancara langsung, telepon maupun surat. Sedangkan untuk mendapatkan data sekunder dapat digunakan fasilitas internet, perpustakaan, publikasi lembaga-lembaga statistik, majalah dan sebagainya.

# Perancangan Sampel dan Pengumpulan Data

Perancangan sampel harus dilakukan dengan menspesifikasi kerangka sampling, proses pemilihan sampel dan jumlah sampel. Kerangka sampling merupakan daftar unsur populasi yang harus diambil sampelnya. Proses pemilihan sampel didasarkan pada berbagai metode sampling, baik probability sampling maupun non probability sampling.

# Analisis dan Interpretasi Data

Temuan riset pemasaran tidak akan ada nilainya jika tidak dianalisis dan diinterpretasikan. Analisis data terdiri atas beberapa langkah, yakni: editing, koding, tabulasi, analisis (misalnya uji statistik) dan interpretasi data.

# Penyusunan Laporan Riset

Laporan riset merupakan rangkuman hasil, kseimpulan dan rekomendasi penelitian yang diserahkan kepada pihak manajemen untuk pengambilan keputusan. Biasanya laporan riset akan menjadi standar penilaian yang digunakan para eksekutif dalam mengevaluasi proses manfaat riset pemasaran. oleh sebab itu laporan riset harus jelas, informatif dan akurat.

referensi:

http://mrpendi.wordpress.com/2008/01/31/apa-itu-riset-pemasaran/

pengertian segmentasi pasar &manfaat

Segmentasi Pasar
Pengertian segmen pasar (Fandy Tjiptono, 2001)

Pada dasarnya, segmentasi pasar adalah proses membagi pasar keseluruhan suatu produk atau jasa yang bersifat heterogen ke dalam beberapa segmen, di mana masing-masing segmennya cenderung bersifat homogen dalam segala aspek.

Pembagian segmen pasar:
1. Segmentasi pasar konsumen
Yaitu membentuk segmen pasar dengan menggunakan ciri-ciri konsumen (consumer characteristic), kemudian perusahaan akan menelaah apakah segmen-segmen konsumen ini menunjukkan kebutuhan atau tanggapan produk yang berbeda.

2. Segmentasi pasar bisnis
Yaitu membentuk segmen pasar dengan memperhatikan tanggapan konsumen (consumer responses) terhadap manfaat yang dicari, waktu penggunaan, daan merek.

3. Segmentasi pasar yang efektif (Fandy Ciptono, 2001)

  • Dapat diukur (measurable), ukuran, daya beli, profil segmen;
  • Besar segmen (subtantial): cukup besar dan menguntungkan untuk dilayani;
  • Dapat dijangkau (accessible): dapat dijangkau dan dilayani secara efektif;
  • Dapat dibedakan (differentiable): secara konseptual dapat dipisahkan dan memberi tanggapan yang berbeda terhadap elemen dan program bauran;
  • Dapat diambil tindakan (actionable): program yang efektif dapat dirumuskan untuk menarik dan melayani segmen tersebut.

Evaluasi terhadap segmen pasar adalah adanya pertumbuhan segmen, daya tarik struktur segmen secara keseluruhan dan SDM, serta tujuan dan sumber daya perusahaan apakah perusahaan berinvestasi dalam segmen tersebut atau tidak

Penentuan Target Pasar
Konsentrasi segmen tunggal
Perusahaan memilih berkonsentrasi pada segmen tertentu. Hal itu dilakukan karena dana yang terbatas, segmen tersebut tidak memiliki pesaing, dan merupakan segmen yang paling tepat sebagai landasan untuk ekspansi ke segmen lainnya.

Spesialisasi selektif
Perusahaan memilih sejumlah segmen pasar yang menarik dan sesuai dengan tujuan serta sumber daya yang dimiliki.

Spesialisasi pasar
Perusahaan memusatkan diri pada upaya melayani berbagai kebutuhan dari suatu kelompok pelanggan tertentu.

Spesialisasi produk
Perusahaan memusatkan diri pada pembuatan produk tertentu yang akan dijual kepada berbagai segmen pasar.

Pelayanan penuh (full market coverage)
Perusahaan berusaha melayani semua kelompok pelanggan dengan semua produk yang mungkin dibutuhkan. Hanya perusahaan besar yang mampu menerapkan strategi ini, karena dibutuhkan sumber daya yang sangat besar.


sumber:

http://www.tempo.co.id/medika/online/tmp.online.old/lap-1.htm

Segmen Manfaat

Demografi

Perilaku

Psikografis


Ekonomi





a. shampoo sachet

Keluarga besar

Pengguna berat

Orientasi nilai otonom


b.pasta gigi

Keluarga besar

Pengguna berat

Orientasi nilai otonom


c. sabun mandi batangan

Anak-anak

Pengguna berat

Orientasi nilai otonom


d. deterjen

Ibu rumah tangga

Pengguna berat

Orientasi nilai otonom


e.sabun mandi bayi

Anak-anak

Pengguna berat

Orientasi nilai otonom


f.sabun cuci piring

Ibu rumah tangga

Pengguna berat

Orientasi nilai otonom


g.pengharum ruangan

Keluarga besar

Pengguna berat

Orientasi nilai otonom


h.sabun pencuci tangan

Keluarga besar

Pengguna berat

Orientasi nilai otonom


i.pemutih pakaian

Keluarga besar

Pengguna berat

Orientasi nilai otonom


j. pengharum pakaian

Keluarga besar

Pengguna berat

Orientasi nilai otonom




Segmen Manfaat

Demografi

Perilaku

Psikografis


Medis





a.obat demam

Dewasa & anak-anak

Pengguna berat

Orang yang mencemaskan kesehatan


b.obat flu

Dewasa

Pengguna berat

Orang yang mencemaskan kesehatan


c.obat cacing

Dewasa&anak-anak

Pengguna berat

Orang yang mencemaskan kesehatan


d.obat batuk anak

Anak-anak

Pengguna berat

Orang yang mencemaskan kesehatan


e.obat maag

Dewasa

Pengguna berat

Orang yang mencemaskan kesehatan


f. vitamin

Keluarga

Pengguna berat

Orang yang mencemaskan kesehatan


g.obat tidur

Dewasa

Pengguna berat

Orang yang mencemaskan kesehatan


h.obat diare

Anak-anak&dewasa

Pengguna berat

Orang yang mencemaskan kesehatan


i.obat sakit gigi

Dewasa

Pengguna berat

Orang yang mencemaskan kesehatan


j. obat masuk angin

Dewasa

Pengguna berat

Orang yang sakit insomnia



Segmen Manfaat

Demografi

Perilaku

Psikografis


Kosmetik





a. bedak

Wanita

Pengguna berat

Kecantikan


b. pembersih wajah

Wanita&pria

Pengguna berat

Kecantikan


c. pemutih gigi

Pria

-

Perokok, dll


d. handbody lotion

Wanita&pria

Pengguna berat

Melindungi tubuh


e. pelembab

Wanita

Pengguna berat

Kecantikan


f. lipstick

Wanita

Pengguna berat

Kecantikan


g. deodorant

Wanita&pria

Pengguna berat

Kecantikan


h. krim pemutih

Wanita

Pengguna berat

Kecantikan


i. pewarna rambut

Wanita&pria

Pengguna berat

Kecantikan


j. pewarna kuku

Wanita

Pengguna berat

Kecantikan




Segmen Manfaat

Demografi

Perilaku

Psikografis


Jenis kelamin





a. minyak wangi

Wanita&pria

Pengguna berat

Membuat tubuh harum


b. gel rambut

Pria

Pengguna berat

Merapihkan rambut


c. alat cukur

Pria

Pengguna berat

Kebersihan


d. krim pemutih

Wanita

Pengguna berat

Kecantikan


e. bedak

Wanita

Pengguna berat

Kecantikan


f. lipstik

Wanita

Pengguna berat

Kecantikan


g. pembersih wajah

Wanita&pria

Pengguna berat

Kebersihan


h. pewarna kuku

Wanita

Pengguna berat

Kecantikan


i. pewarna rambut

Wanita&pria

Pengguna berat

Modifikasi rambut


j. semir sepatu

pria&wanita

Pengguna berat

Kebersihan




Segmen Manfaat

Demografi

Perilaku

Psikografis


Umur





a. pasta gigi aneka rasa

Anak-anak

Pengguna berat

Menjaga kesehatan gigi


b. makanan ringan

Dewasa&anak-anak

Pengguna berat

Menjaga tubuh tetap langsing


c. teh hijau

Dewasa

Pengguna berat

Menjaga tubuh tetap langsing


d. jamu

Dewasa

-

Menjaga kesehatan tubuh


e. kopi

Dewasa

Pengguna berat

-


f. susu diet

Dewasa

Pengguna berat

Menjaga tubuh tetap langsing


g. rokok

Dewasa

Pengguna berat

-


h. minuman bersoda

Dewasa

Pengguna berat

-


i. susu bubuk

Anak-anak

Pengguna berat

Untuk memenuhi kebutuhan


j. biskuit bayi

Anak-anak

Pengguna berat

Untuk memenuhi kebutuhan